Penulis


Sebuah Perjalanan

Hanya Sebatas Coretan

Embum malam yang sedikit memudar, rintik hujan diantara gelap dan terang tampak sosok yang menyilaukan dari balik pegunungan dengan cahaya yang menghampar dengan panas yang menyegarkan, Seorang yang berpenampilan dan bergaya dengan lusuh datang dari kejauhan memasuki sebuah sudut kota yang penuh dengan kearifan dan kebersamaan, berjalan seorang pengembara dari kota timur pulau KalBar. Sang pengembara mencari tempat beristirahat sekaligus mencari tempat tinggal untuk menetap dan akhirnya ditemukan sebuah perkampungan yang terletak di pesisir kota tersebut.

Ia hidup dengan bersenjatakan Jaring dan Jala berlayarlah sang pengembara untuk mencari sang korban demi menyambung hidup sang pengembara. Tak berapa lama sang pengembara hidup di kota tersebut, terlihat seorang gadis desa yang ayu dan manis sedang membantu orang tuanya yang pulang dari berlayar, hati sang pengembara tersentak kaget, jantung terasa berhenti berdetak dan terlintas sebuah pertanyaan dalam benak “Inikah namanya CINTA”. Setelah mengetahui apa yang telah terlintas dipikiran sang pengembara, ia pun berlari dan terus berlari demi menggapai cinta sang gadis desa yang akhirnya berhenti di sebuah pelaminan yang penuh dengan kebahagiaan.

Musim silih berganti, tak terasa usia pernihakan sudah beranjak dewasa dengan tertanamnya benih cinta antara sang pengembara dengan gadis desa nan ayu jelita, behih tumbuh semakin besar dan sang putri yang mendapatkan belaian kasih sayang dari kedua orang yang sangat mencintainya, terukir dan terpahat sebuah nama di gundukan batu besar di pelataran gunung yang bertuliskan “Siti Aisyah” ya begitulah tulisan yang mengukir kehidupan sang pengembara.

Cinta dan kebahagiaan sang pengembara bersama keluarga semakin tumbuh subur, kesuburan tanah yang mendambakan benih bersemi kembali dengan menyandang gelar putra, benih itu tumbuh seakan melengkapi dan menyinari hidup sang pengembara itu, ukiran untuk kedua kalinya terukir disebuah batu akik yang kecil namum mempesona dan mempunyai cahaya tersendiri, ukiran sebuah nama “Fadlie” terpahat dan kekal abadi sampai di akhir hayat.

Kerukunan terlihat antara sepasang insan yang saling menyayangi dan sepasang merpati yang dipelihara dan dibesarkan dengan belaian kasih sayangNya dengan didikan dan ilmu yang diberikan oleh sang pengembara, pertengahan tahun 1991 dan tepatnya tanggal 29 Mei, lahirlah seorang gadis kecil yang membuat nama seorang “Fadlie” mendapat gelar “Abang” yah… gadis kecil itu bernama “Hairunnisa” dia adalah adik satu-satunya dari “Fadlie”, kehidupan mereka dibumbui oleh keharmonisan dan keakraban.

(bersambung…..)

–Notice–

Terima kasih kepada ALLAH S.W.T yang selalu memberikan jalan kebenaran.
Terima kasih kepada Mama, Keluarga dan Adik yang tercinta
Terima kasih kepada Seluruh teman-teman yang selalu mendukung saya.