Mencari jalan yang lain

Ceritakan padaku akan sampah yang sering kamu tiduri dengan bangga dan tepuk dadamu. Ceritakan padaku pula seperti apa ludah yang sering kamu jilat sendiri pada saat mukamu terlepas dari kulit. Mungkin ada yang bisa aku buktikan dari bangunan bukit sampah dan ludahmu. Kegelapan yang sering kamu coba bongkar tak ubahnya sebuah kaca mobil yang sering kamu gunakan untuk mentertawakan semua yang melintas di sekitar. Berlari lalu bersembunyi.


Selalu saja kamu ceritakan padaku akan kata asing yang selalu terdengar setiap kamu mengeluhkan terjalnya hidup. Sementara disana rintih anak gempa tak mampu menerobos telinga dengan tembok tinggi yang sering kamu atasnamakan suara Tuhan. Bahkan penyairpun tak mau mengakui sebagai anak syair untuk dihidupkan dalam gores pena kecantikan mereka. Semoga esok setelah aku terbangun di pagi hari, semua bisa terjalani seperti kemarin. Kembali hidup dan bencana ini berakhir.

Depok, 2009.

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar