Teras Waktu

Disini di teras waktu yang masih terus berputar, tiada berhenti untuk meninggalkan tulang-belulang hidup yang didalamnya terselipi picing pandangan akan kehidupan sosial yang semakin hari semakin menimpang. Duduk dengan pantat tiada menentu untuk menetap, entah dimana sebenarnya pantatku selayaknya berada. Tangan dan kakiku kaku layaknya Piala Sudirman yang hanya diperingati untuk perayaannya saja tanpa mengerti jejak langkahnya, dimana kemudian cerita bisa berlanjut dalam langkah kaki generasi penerus.


Aku tengadahi langit, untuk mencari secarik benang merah yang “mungkin” menghubungkan dari satu manusia ke manusia lain. Barangkali bisa aku temukan benang itu sewarna denganku hingga akhirnya aku bisa mengenalkan diri karena aku membutuhkannya. Betapa rumitnya menemukan simpul berwarna yang menarik perhatian dan bisa mengikatku untuk mati didalamnya. Pernah aku memakai cat warna untuk memoles benang yang tertangkap tangan, namun lama kelamaan warna itu memudar selayaknya cat yang terkena minyak tanah. Pernah juga aku tangkap paksa untuk membuatnya mengerti dan mengakui, namun tembakan yang menjawab. Seketika aku lari untuk mencari lagi. Tanpa terasa aku sudah berjalan sedikit jauh ke depan melebihi pikiran. Kembali aku mencari tempat duduk, tiada peduli berselimut permadani atau tidak namun terpenting aku dapati kenyamanan. Sudut kenyamanan yang tidak mempunyai bentuk serta presisi tertentu namun selalu membuat manusia sanggup untuk membunuh dengan menanggalkan sifat ketuhanannya.

Akhirnya aku putuskan untuk menanggalkan baju, pikiran dan otak dengan tetap memasang hati. Aku berjalan mengitari lingkaran biru tua yang damai dan tumbuh tepat di tengah alun-alun. Tanpa malu aku lingkari berulang-ulang dengan harapan lama kemudian lingkaran itu menjadi besar meski tanpa baju

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar